Selamat Datang
di Blog Kami
Tampilkan postingan dengan label Go Green. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Go Green. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2012

Tips dan Cara Menghemat Tisu

0 komentar
Jika teman-teman mencintai lingkungan atau irit, marilah kita mulai berhemat terhadap hal-hal yang sepele. Salah satu yang bisa kita hemat adalah berhemat penggunaan tisu. Tisu diklaim telah memotong banyak pohon karena bahan dasarnya adalah tumbuhan. Nah, supaya lingkungan kita terjaga, pohon-pohon tidak habis, alias kita berjalan beriringan untuk membuat pengusaha tisu kebingungan karena barangnya tidak laku, maka kita bisa memulai dengan menghemat tisu.

Salah satu cara menghemat tisu adalah tidak menggunakan tissue untuk hal kecil lalu dibuang. Tisu yang tidak terpakai semua, bisa digunakan lagi dengan membuang bagian yang terpakai saja. Contoh, jika kita membuang ingus, maka kita cukup membuang bagian tisu yang terkena ingus saja. Caranya:
1. Setelah membuang ingus di tisu, lipat dan buat seperti ini:
hemat-tisu  
2. Jika sudah terlipat seperti diatas, kita tinggal potong bagian yang ada ingusnya. Hasilnya:
hemat-tissue-potong
3. Buang bagian terpotong yang ada ingusnya, lalu yang masih bersih, bisa dilipat kembali dan dimasukan kekantong untuk dipakai lagi.


So, jangan ragu untuk memulai hidup go green.

Pohon Trembesi, Sang Pohon Hujan

0 komentar
Nama latin pohon trembesi ini adalah Samanea Saman (Rain Tree). Pohon ini aslinya hidup di Amerika Selatan dan sekarang secara natural juga hidup dalam cuaca tropis. Secara natural bisa mencapai pertumbuhan sampai ketinggian 25 meter dan diameter 30 meter.

Disebut Pohon Hujan (Rain Tree) karena air yang sering menetes dari tajuknya yang disebabkan kemampuannya menyerap air tanah yang kuat. Daunnya juga sangat sensitif terhadap cahaya dan menutup secara bersamaan dalam cuaca mendung (ataupun gelap) sehingga air hujan dapat menyentuh tanah langsung melewati lebatnya kanopi pohon ini. Rerumputan juga berwarna lebih hijau dibawah pohon hujan dibandingkan dengan rumput disekelilingnya.

Pohon ini memang diperuntukkan bagi ruang publik yang sangat luas seperti taman atau taman, halaman sekolah ataupun pekarangan rumah yang mempunyai area tanah yang sangat luas.

Ciri pohon trembesi ini sangat mudah dikenali dari karakteristik dahan pohonnya yang akan membentuk seperti bentuk payung. Dan pohon trembesi ini akan tumbuh melebar melebihi ketinggian pohonnya (gak kebayang ademnya kalau ditanam di tengah lapangan Simpang Lima). Dinegara asalnya pohon ini dipergunakan sebagai pohon penyejuk di perkebunan maupun taman.

Selain kelebihan diatas ternyata pohon trembesi juga mampu menyerap CO2 puluhan kali dari pohon biasa. Pohon trembesi mampu menyerap 28,5 ton karbondiokasida setiap tahunnya. (diamaeter tajuk 15 meter). Bandingkan dengan pohon biasa yang rata-rata mampu menyerap 1 ton CO2 dalam 20 tahun masa hidupnya. Selain itu pohon Trembesi juga mampu menurunkan kosentrasi gas secara efektif, tanpa penghijauan dan memiliki kemampuan menyerap air tanah yang kuat.

Mungkin karena kemampuan menyerap CO2 inilah maka pemerintah meluncurkan program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010 dengan trembesi sebagai pohon utama untuk ditanam.

Tetap masih ada pro dan kontra terhadap penanaman pohon trembesi ini. Yang pertama karena kemampuan pohon trembesi menyerap air tanah yang sangat kuat sehingga ditakutkan malah akan mengurangi ketersediaan air tanah. Yang kedua karena tanaman yang hidup dibawah pohon trembesi tidak akan dapat bertahan karena perindang yang cukup lebat sehingga tanaman dibawahnya tidak mendapatkan cahaya matahari yang cukup.

Kalau menurut saya, asalkan pohon ini tidak ditanam secara membabi buta dan memperhatikan keragaman hayati daerah setempat makan pohon trembesi ini akan sangat bermanfaat. Memperhatikan keragaman hayati setempat inilah yang saya harapkan dari Pemerintah Pusat maupun kota ketika hendak menanam pohon trembesi ini sebagai pohon utama program penghijauan di tahun ini.(jambul/366)

(Bobby, sumber Kompasiana)

Hapsoro, Guru "Pemulung" dari Sungai Ciliwung

0 komentar
Sebagai aktivis lingkungan, Hapsoro banyak mengadvokasi persoalan pembalakan liar di Pulau Kalimantan. Ia masuk-keluar hutan dan berkampanye demi penyelamatan hutan. Namun, ketika melepas semua itu dan hanya memaknai diri sebagai orang Bogor, Hapsoro memilih menjadi "pemulung" di Sungai Ciliwung.

Bukan sembarang "pemulung", sejak 2009 Hapsoro bersama rekan-rekannya menggulirkan Komunitas Peduli Ciliwung Bogor. Rutin sekali dalam sepekan mereka memulung sampah di tepian Sungai Ciliwung. Mereka punya 11 titik favorit yang terbanyak sampahnya di sepenggal Sungai Ciliwung di Kota Bogor, mulai Katulampa hingga Cilebut.

Pesertanya masyarakat awam, dari karyawan kantor, guru, hingga pelajar. Mereka menyebarkan informasi titik memulung melalui pesan singkat berantai yang dimulai oleh Hapsoro. Maklum komunitas ini tida mengikat keanggotaan, siapa saja boleh datang dan pergi.

Kegiatan itu murni swadaya Hapsoro dan rekan-rekan tanpa dukungan lembaga tertentu. Hapsoro yang kerap "berjuang" untuk pelestarian lingkungan di luar Bogor merasa perlu berbuat sesuatu bagi Bogor, tempat tinggalnya. Persoalan lingkungan yang menonjol di Bogor adalah Sungai Ciliwung yang kerap dijadikan "tempat sampah". "Sekali memulung, sampah yang terkumpul bisa sampai satu mobil bak terbuka. Awalnya kami urunan menyewa mobil Rp100.000, tetapi belakangan Pemerintah Kota Bogor membantu menyediakan mobil sampah. Mungkin mereka malu", tuturnya.

Setiap Sabtu
Acara memulung bersama itu dilaksanakan setiap Sabtu. Bergantian dengan dua kegiatan lain, yakni menyusuri tepi Ciliwung dan memulung benih pohon beringin serta pekan berikutnya menanam benih yang dikumpulkan dari hutan sekitar Kecamatan Dramaga di tepian Sungai Ciliwung.

Harapannya, pohon beringin yang berakar kuat itu bisa membantu menyerap air hujan agar tidak erosi, sekaligus memperkuat daerah sempadan sungai agar tak mudah longsor. Selama dua tahun terakhir sudah ratusan pohon mereka tanam di bantaran Ciliwung.

Sekali dalam setahun mereka menggelar lomba memulung per kelurahan di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung dan tahun ini akan menginjak tahun ketiga. Masyarakat berlomba berupaya menjadi yang terbanyak mengumpulkan sampah rumah tangga di Sungai Ciliwung. Juara pertama loba mendapat hadiah Rp5 juta. Uang "pembinaan" bagi pemenang merupakan sisa hasil penjualan sampah plastik dari kegiatan memulung rutin setiap pekan dan donasi perorangan.

Hampir tiga tahun memulung, tentu ada suka dan duka yang dirasakan Hapsoro dan teman-teman. Hal tersering yang mereka alami adalah kaki luka kena pecahan kaca atau paku saat memburu sampah di Ciliwung. Yang membuat mereka sampai mengelus dada, ketika sedang memungut sampah, tiba-tiba orang yang tinggal di bantaran sungai tanpa melihat kegiatan itu dengan entengnya membuang sampah ke sungai. Tak jarang sampah tersebut bahkan mengenai kepala mereka. Duh...

Minus kepedulian
Jumlah peserta atau sukarelawan yang terlibat dalam kegiatan memulung itu tak tentu. Pernah hanya bisa dihitung dengan jari, kadang  belasan, pernah pula sampai 80 orang. Dia mengaku sengaja mengajak mereka memulung sampah agar menjadi lebih peduli terhadap Ciliwung.

Ciliwung kerap menjadi persoalan saat banjir melanda Jakarta. Daerah hulu Bogor akan dipersalahkan oleh orang-orang di hilir, seperti Jakarta. Kerusakan Ciliwung sudah terbilang parah, dengan sampah di mana-mana, airnya keruh,, terutama di daerah tengah dan hilir sungai.

Masyarakat membuang sampah karena masih merasa Ciliwung sebagai tempat sampah yang efisien. Orang tinggal melemparnya, lalu sampah hanyut, untuk kemudian menumpuk atau tersangkut di daerah lain. Padahal masyarakat juga memerlukan Ciliwung. Mereka memanfaatkan air dari Sungai Ciliwung untuk kebutuhan sehari-hari. Pada masa lalu, Ciliwung dekat dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Leonard Blussem sejarahwan Belanda, dalam buku Persekutuan Aneh mencatat, Batavia (Jakarta) pernah dikenal sebagai kota yang indah dan bersih pada 100 tahun pertama usianya. Namun sejarahwan mencatat pula, akibat erupsi Gunung Salak, sanitasi kota sama sekali tidak baik karena aliran Sungai Ciliwung tersumbat dan air tercemar. Kini, bukan erupsi Gunung Salak yang menyumbat dan mengotori Sungai Ciliwung, melainkan orang-orang yang tinggal di sekitar sungai itu.

"Kegiatan memulung ini juga untuk kembali mengingatkan mereka agar peduli terhadap Ciliwung,. Kami sebetulnya lebih berharap muncul kesadaran masyarakat", katanya. Adakah hasilnya? Bagi Hapsoro, apa yang dia dan rekan-rekannya lakukan hanya setitik upaya untuk menjaga Ciliwung. Dimulai dari membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap Ciliwung.

Setidaknya, menurut Hapsoro, kini orang-orang mulai memiliki rasa malu untuk membuang sampah sembarangan di sungai ketika mereka "bekerja" mengurangi sampah. Untuk mendorong agar kegiatan ini menjadi gerakan moral warga, seperti harapan Hapsoro, masih jauh dari kenyataan. Namun, bukankah untuk memulai sebuah perjalanan perlu satu langkah kecil? Bagi Hapsoro dan teman-teman, langah kecil itu dimaknai dengan memulung sampah di Sungai Cilwung...

(Bobby, diambil dari KOMPAS.com)

Membakar sampah, baik kah?

0 komentar
Urusan kita dengan sampah tidak berhenti saat kita membuang sampah saja. Membuang sampah di tempatnya memang baik, tetapi masih ada hal-hal yang kita perlu perhatikan setelah membuang sampah.

Beberapa dari kita memilih untuk membakar sampah yang telah terkumpul. Apakah pilihan untuk membakar sampah merupakan pilihan yang baik? Ternyata membakar sampah malah menimbulkan masalah baru lagi, khususnya bagi kesehatan kita.

Saat membakar sampah dalam tumpukan, tidak terjadi proses pembakaran yang baik. Pembakaran yang baik adalah dengan membutuhkan Oksigen (O2) yang cukup. Berbeda saat membakar tumpukan sampah, mungkin bagian luar tumpukan cukup mendapatkan Oksigen sehingga menghasilkan CO2, tapi di dalam tumpukkan sampah akan kekurangan O2 sehingga yang dihasilkan adalah gas Karbon Monoksida (CO).

Lalu kenapa dengan gas Karbon Monoksida?
Gas Karbon Monoksida (CO) merupakan gas yang berbahaya, karena dapat membunuh kita secara massal. Bila kita menghirup gas CO, hemoglobin darah yang seharusnya mengangkat dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh akan terganggu. Dengan begitu, tubuh akan mengalami kekurangan Oksigen, yang dapat berujung kematian.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah juga berbahaya, lho. Masalah juga muncul dari sampah organik, yang dapat mengakibatkan partikel-partikel yang tak terbakar akan berterbangan, atau menghasilkan reaksi yang menghasilkan hidrokarbon berbahaya. Hidrokarbon berbahaya yang dihasilkan asap pembakaran sampah, termasuk senyawa penyebab kanker yaitu benzopirena, nyatanya mencapai 350 kali lebih besar dari asap rokok. Semakin jauh, kita bisa terjangkit kanker paru-paru, infeksi paru-paru, asma, atau bronkitis.

Belum lagi dengan gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah, yang juga dapat merusak atmosfer bumi. Gas tersebut adalah senyawa chlor, yang dihasilkan dari pembakaran plastik. Pembakaran bahan sintetis yang mengandung nitrogen, seperti nilon, busa poliuretan yang ada pada sofa atau karpet busa, juga membahayakan karena dapat menghasilkan gas HCN yang berbahaya.

Membuang sampah di tempatnya memang belum cukup. Proses dalam menghancurkan sampah nyatanya masih jauh lebih ribet lagi. Sehingga pada dasarnya, kita pun perlu mengurangi sampah, terutama sampah-sampah yang susah mengurai. Mengurangi konsumsi, memaksimalkan produk yang bisa digunakan berkali-kali daripada yang sekali pakai.

Be smart, be green.

Yuk Kita Menjaga Lingkungan "Go Green"

0 komentar
Enggak perlu berkecil hati kalau enggak bisa jadi aktivis lingkungan atau memadamkan kebakaran hutan.Ada kok beberapa hal - hal kevil lain yang masih bisa kita lakukan sebagai bentuk partisipasi kita buat menjaga lingkungan sekitar kita ,diantaranya adalah :

  • Siraamm, hemat saat harus menggunakan air siram seperlunya saja.
  • pisahkan sampah
  • buang sampah pada tempatnya
  • bungkus dulu,misal jika mau buang sisa permen karet or makanan lain yg lengket mending bungkus dulu deh
  • Hemat AC,jangan biarkan AC menyala sepanjang hari
  • Budayakan nebeng,saat pergi rame - rame dengan teman dalam 1 mobil tentu lebih seru dan lebih hemat dari pada harus masing - masing orang pake mobil sendiri - sendiri ( boros)
  • Hemat pake hp,hemat pake hp brarti kan jarang charge nya
  • Tampung dulu,saat mencuci tangan untuk menyiramnya jgn langsung pake kran mending air kita tampung dulu diember biar lebih hemat
  • Recycle sign only, belilah cemilan yg dibungkusnya ada tulisan recycle
  • Tolak plastik,sebisa mungkin kurangi penggunaan plastik apalagi saat belanja
  • Against animal testing
(Bobby, dari berbagai sumber)

Tahukah Kalian…Berapa lama benda-benda ini terurai di dalam tanah ?

0 komentar

Kategori Bahan / Material
Lama terurai

· Kertas
2,5 bulan.

· Kain katun
1,5 bulan.

· Kulit jeruk
6 bulan

· Kardus/karton
5 bulan

· Filter rokok
10 – 12 tahun.

· Kantung plastik
10 – 20 tahun.

· Sepatu kulit
25 – 43 tahun.

· Baju/kaos kaki yang berbahan nilon
30 – 40 tahun.

· Plastik keras (botol plastik, tupperware, dll) :
50 – 80 tahun.

· Aluminium
80 – 100 tahun.

· Kaleng timah
200 – 400 tahun.

· Styrofoam
tidak dapat terurai




Sumber : database Yayasan Hijau GPL

Hijau Indonesiaku

0 komentar
Yang paling Indonesia banget adalah kepulauan yang begitu banyak,kebudayaan yang begitu unik dan luar biasa,tradisi dan adat istiadat yang masih kental terasa..Keindahaan alamnya kalua kita perhatikan dan cari bahwa Indonesia memiliki Lahan hijau yang begitu luas.tapai karena sebagian orang-orang bertangan jahil sedikit demi sedikit hijau itu semakin lenyap berubah menjadi area yang gundul.

Global Warming yang sekarang ini sangat terasa sekali efeknya untuk kita makhluk hidup..Kegiatan penghijauan hanya sebentar melewatinya,dan tidak bisa dilakukan hanya dengan segelintir orang yang peduli terhadap lingkungan seharusnya kita bersama melakukan hal yang terbaik agar kembali hijaunya Indonesia.

Jaga dan rawatlah bumi tercinta kita!

Global Warming

0 komentar
Pemanasan global jadi issue yang bener-bener hot dan jadi perhatian para petinggi negara di seluruh dunia, saat ini. Efek rumah kaca yang semakin nggak terkendali menyebabkan lapisan ozon bolong dan semakin parah tiap harinya. Efek rumah kaca juga menyebabkan energi matahari dalam bentuk radiasi inframerah nggak bisa memantul keluar atmosfer, karena terhalang awan, gas CO2 (karbondioksida) dan gas lainnya ini menyebabkan suhu bumi semakin meningkat.

Dampaknya, es di kutub mencair, air laut semakin naik, iklim menjadi kacau dan cuaca saat ini nggak bisa ditebak. Yang lebih ngeri, kalau emisi CO2 terus meningkat, suhu bumi bisa meningkat 1.1 - 6.4 derajat celcius yang akan merusak keseimbangan ekosistem bumi. Sikap manusia yang egois juga berperan memperparah global warming. Hutan yang jadi paru-paru dunia malah ditebangi (bego banget), polusi makin banyak karena makin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Apalagi kita banyak banget memakai barang-barang dari plastik dan sering buang sampah sembarangan. Nggak heran kalau sering terjadi bencana alam.

Padahal nggak susah kok berpartisipasi mengurangi pemanasan global. Dont Littering for example! Kurangi pemakaian plastik dengan menggunakan kantong dari kain atau kertas yang di daur ulang. Gunakan sepeda sebagai alat transportasi ramah lingkungan atau mulai beralih ke angkutan umum. Bayangkan polusi yang bisa dikurangi kalau semua pengguna kendaraan pribadi menggunakan angkutan umum. Jangan lupa untuk mulai menanam pohon. (Bobby, diringkas dari berbagai media)

Tisu, Hal Sepele Berdampak di Masa Depan

0 komentar
Teman, pernah tidak terlintas di benak kalian semua mengenai tissue. Ya, benda yang sering kita gunakan setiap saat. Sehabis makan pagi selembar (khusus makanan pedes nanti bisa tambah banyak), pas di sekolah setelah jajan selembar, makan siang selembar (dan bisa tambah), makan malam selembar.

Kelihatannya sepele jika hanya dalam sehari. Tapi pemakaian itu terus menerus dalam hitungan minggu, bulan, dan tahun. Semua tissue yang kita gunakan itu berasal dari POHON lho...

Nah, sebenarnya kita sendiri telah melakukan perbuatan yang tidak mengarah kepada perbuatan Go Green lho.

Ada langkah yang dapat kita lakukan agar hemat dan pohon-pohon yang seharusnya menjadikan segarnya bumi ini tetap lestari. Salah satunya adalah mengganti penggunaan tissue dengan lap kain.

Awalnya saya juga seperti itu, suka memakai tissue setiap hari. Namun setelah membaca salah satu artikel dari internet bahwa pemakaian tissue juga andil dalam mengantarkan semakin besarnya efek rumah kaca, hingga sekarang, saya sudah berusaha mengganti tissue dengan kain lap yang saya bawa ke mana-mana. Hitung-hitung menghemat uang.

Daripada dibelikan tissue, mending kita manfaatkan saja buat yang lebih ramah lingkungan, seperti membeli tanaman hias atau bibit pohon agar nanti bisa menjadikan lingkungan rumah kita menjadi segar. (Bobby, sumber dari berbagai media)

Go Green untuk Menyelamatkan Bumi

0 komentar
Kata orang tua saya, pada waktu beliau kecil udara pagi begitu segar dan sawah yang hijau di pinggir jalan serta pohon-pohon yang hijau, namun nampaknya sekarang hal tersebut cukup sulit untuk saya temukan, udara semakin panas, polusi udara semakin buruk sehingga orang-orang jadi lebih mudah untuk jatuh sakit.

Teman, sebenarnya kita dapat merasakan hal indah yang pernah dialami oleh orang tua saya (dan juga orang tua teman-teman). Mungkin beberapa tips ini dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk memulai prinsip Green demi menyelamatkan bumi kita. Setidaknya, bisa kita memulainya dari diri kita sendiri

1. Menggunakan Air Secukupnya
Air adalah sumber kehidupan, air yang bersih dan sehat akan menjaga lingkungan dan tubuh kita. Jangan dibuang-buang. Kalau di tempat kita seperti Jepara ini, kita seharusnya bersyukur karena air cukup melimpah. Namun kadang-kadang kita lupa bahwa di tempat lain ada yang sangat kesulitan air. Bahkan saya pernah membaca sebuah berita bahwa ada beberapa daerah di Indonesia yang sangat kesulitan mendapatkan air.

2. Menanam tumbuhan di sekitar rumah kita
Tanaman dan tumbuhan berfungsi sebagai pemancar oksigen bersih, akan lebih baik lagi bila yang ditanam itu pohon, karena pohon akan menjaga kulaitas air kita. selain itu oksigen bersih yang di hasilnyapun jauh lebih besar.

3. Gunakan Teknologi ramah lingkungan
Paling tidak hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah mematikan lampu saat tidur, ada manfaatnya yaitu apabila mematikan lampu saat itu baik bagi kesehatan mata, karena mata kita dapat beristirahat dengan penuh.

4. Hindari penggunaan kantong plastik saat berberlanja, gantikan dengan kardus
Plastik merupakan salah satu zat yang sulit di urai oleh bakteri dan mineral-mineral dari tanah, sama halnya streoform  baru dapat terurai setelah melewati umur 105 tahun. Hati-hati yang suka beli makanan yang berbungkus styrofoam, kalau mau di rebus mending pindahkan ke kaca agar tidak terkena racun.

5. Gunakan kendaraan bermotor seperlunya
saya terkadang heran sama orang-orang bahkan teman saya sendiri, pergi ke warung saja yang jaraknya cuma 50 meter malah menggunakan motor, sungguh terlalu malasnya. Kalau kita pun begitu ayo bergerak, gunakan kaki kita untuk berjalan, jangan malas. orang tua zaman dahulu berumur panjang dan saat tua pun tidak sakit-sakitan karena mereka banyak berjalan kaki.

(disadur dari berbagai sumber)

Tips dan Cara Menghemat Air

0 komentar
Jika teman-teman mulai kebingungan karena tagihan air PAM mulai membesar ditambah anda adalah seorang yang mencintai lingkungan, anda bisa memulai melakukan tips menghemat air seperti yang saya lakukan. Salah satu cara untuk menghemat air adalah menyiram tanaman dengan air sisa cucian.

Loh, emang tanamannya tidak rusak? Tidak. Kalau rusak, anda tidak akan melihat got-got penuh dengan tumbuhan liar. Artinya, air bekas cucian walaupun mengandung sabun, tidak bermasalah terhadap tumbuhan.
Tips jika anda tidak ingin membongkar tempat cuci piring anda adalah dengan membuat tadahan di wastafel. Contoh:
hemat-air
Ketika mencuci piring, tadahan air ini jika sudah penuh, anda bisa masukan ke ember. Setelah ember penuh, anda bisa mengangkutnya ke halaman anda dan menyiram tanaman-tanaman kesayangan anda dengan air sisa cucian.

Hemat bukan?

So, jangan ragu untuk memulai hidup go green.